Pada 28 november 2017, saya menghadiri acara nonton bareng film “GIE” yang di adakan oleh BEM FAI UHAMKA. Film ini bercerita tentang perjuangan Soe Hok Gie dalam melawan kebusukan pemerintahan Soekarno. Film ini menarik perhatian saya karena saya merasa memiliki sedikit kesamaan dengan Soe Hok Gie, yaitu kesamaan dalam mengkritisi suatu permasalahan melalui tulisan. Banyak yang yang dapat dipetik dari film ini, dan saya akan menyampaikannya sedikit.

Dalam film ini, hal yang sangat menarik perhatian saya adalah ketika Soe Hok Gie berkata “jika ingin bebas, kita harus melawan”. Dia mengatakan hal itu karena ia merasa guru di sekolah nya bertindak layaknya dewa, tidak pernah salah. Dan kata kata nya itu juga ia terapkan ketika Soekarno ingin melaksanakan demokrasi terpimpin yang dipandangnya tidak adil. Dari kata kata nya tersebut dapat ditarik hikmah nya yaitu kita harus melawan ketika seorang mulai sewenang – wenang dengan status atau jabatannya. Dan kita juga tidak boleh menari bersamanya diatas kesewenang – wenangannya tersebut.

Banyak cara yang kita dapat lakukan untuk melawan ketidak adilan tersebut. Dapat dilakukan dengan cara yang sangat kecil namun memiliki pengaruh yang cukup yaitu dengan cara menulis, ya itu lah yang saya petik dari film ini. Soe Hok Gie selalu menulis dengan kritis tentang isu isu politik saat itu. Melalui tulisannya lah banyak orang yang tergerak untuk melakukan reformasi. Ketika aksi turun ke jalan sudah tak memiliki pengaruh yang berarti, maka tulisanlah yang akan sangat berperan saat itu. Dari tulisan tulisan itu lah Soe Hok Gie dapat membuat rakyat tau bahwa ada yang sedang tidak beres pada negeri ini dan perlu untuk segera diperbaiki.

Tapi ada hal yang perlu diingat, ketika kita ingin bertindak kita harus mengerti tujuan yang kita ingin capai dari tindakan tersebut. Jangan hanya ikut – ikutan. Karna jika kita tidak mengetahui tujuan tersebut dikhawatirkan kita hanya akan “ditunggangi” oleh pihak pihak yang menginginkan kekuasaan. Dan juga kelak tindakan kita akan diminta pertanggung jawabannya nanti.

Ada hal yang lagi lagi menarik perhatian saya, ketika Soe Hok Gie merasa sangat terbebani karna militer berkuasa dan bertindak semaunya. Ia merasa sangat bersalah karna dia ikut ambil andil dalam pelengseran Soekarno sehingga Soeharto berhasil berkuasa. Walau dalam hal ini Soe Hok Gie tidak sepenuhnya menjadi penyebab itu, namun ia tetap merasa bersalah ketika militer mulai bertindak semaunya ketika mereka berhasil berkuasa. Saya memetik hikmah dari sini, bahwa tindakan kita bisa jadi akan memiliki efek yang baik dan buruk secara bersamaan. Disini juga dapat ditarik hikmahnya bahwa kita harus bertanggung jawab dari efek tindakan yang kita lakukan walaupun efek itu sedikit.

Walau pun saya merasa memiliki banyak persamaan, namun ada kata kata Soe Hok Gie yang membuat saya terusik. Dia sempat berkata “Hal itu dilakukan karena mereka takut menghadapi siksaan atau cara pembunuhan mengerikan yang dilakukan oleh manusia yang menyebut dirinya ber-Tuhan”. Padahal kenyataannya, manusia yang bertuhan dan taat kepadanya tidak akan melakukan perbuatan yang keji. Manusia yang hanya mengetahui tuhan namun tidak ingin mengenal dan taat kepadanya lah yang bisa melakukan hal keji tersebut.

Masih banyak lagi hikmah yang dapat dipetik dari film ini. Bagi teman teman yang belum menonton, film ini sangat dianjurkan sekali untuk ditonton karna banyak pelajaran yang bisa kita ambil khususnya bagi kita mahasiswa. Ingin sedikit mengutip kata kata dari orang bijak yaitu “ambil yang baiknya, buang jauh jauh yang jelek nya”,

-ABRAR

 

NOBAR GIE
Memetik Hikmah Dari Film “GIE”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: